Selasa, 23 Juli 2013

pelangi oh pelangi


* Krrrrriiiiiiiiiinnnggg..... *
Suara bel sekolah telah usai. Aku segera berjalan menuju ke kantin dimana aku biasa menunggu pujaan hatiku. Aku biasa menunggu dia di pojok kantin, dimana aku dan dia juga biasa makan berdua di waktu istirahat. Di tambah suasana yang rindang dengan di tumbuhi pohon palm. Canda dan tawa selalu mengisi waktu istirahat kami berdua. Tak lama kemudian dia datang. Ku liat dari kejauhan sepertinya dia tampak murung. Tapi hari ini ku liat ada keganjilan dari raut wajahnya. Tidak seperti hari-hari lain. Tak ada senyum manis dari lesung pipinya. Tapi hari ini sangat ganjil sekali. Ku liat dia tidak tersenyum kepadaku. Ku liat seperti ada beban yang menghantui wajah manis dia.
" Kenapa kamu Shan hari ini ? " tanyaku penuh tanda tanya.
" Aa... Aku gak kenapa-napa kok. " jawab dia dengan gugup.
Ku tatap bola matanya dengan penuh keheranan. Ku pegang kedua tangan Shania untuk meyakinkan.
" Tidak mungkin gak terjadi apa-apa. Pasti ada sesuatu yang terjadi sama kamu ? " tanyaku lagi dengan heran.
" Beneran aku gak kenapa-napa kok . Aku lagi kurang fit aja sama hari ini. " jawab Shania sedikit agak serak suaranya.
" Ya udah kamu nanti pulang langsung minum obat terus istirahat ya. " kataku sambil menghabiskan roti bakar yg tadi ku pesan.
" Oh iya kamu gak mesen roti bakar dulu shan ? "
" Gak, aku gak laper kok. " jawab shania.
" Wah tumben kamu gak makan roti bakar dulu sebelum pulang ke rumah. Biasanya kamu paling demen kalo pulang sekolah makan roti bakar. " kataku sambil menghibur Shania.
" Kan aku udah bilang kalo aku lagi gak laper dan lagi gak enak badan. " jawab Shania sedikit agak membentak.
" Ya udah kalo kamu gak laper kita langsung pulang aja yuk. " kataku sambil berdiri dan memakaikan swetear kepada Shania.
Kami berdua langsung beranjak meninggalkan kantin dan menuju parkiran. Tampaknya Shania tidak mau bicara. Tidak seperti biasanya Shania selalu bercerita tentang kejadian yg lucu, mulai dari kelakuan teman sebangkunya si Ochi dan juga blak-blakan kepadaku. Feeling ku kuat sekali pasti ada sesuatu yg Shania tutupi. Seribu tanda tanya menyelimuti pikiranku. Aku tak mau membuat Shania kesal lagi cuman gara-gara aku selalu bertanya. Aku segera mengambil sepeda yang cukup jauh aku menaruhnya.
" Tunggu di sini ya sayang. " kataku sambil mengambil tas Shania.
Aku bergegas mengambil sepedaku. Ku dengar suara orang memanggilku dengan mengangetkan.
" Juned !! Azzeek pulang bareng ama yayang Shania. " sapa Ochi menepuk pundakku.
" Lo gak dimana-mana kalo dateng muncul pasti ngangetin. "
" Ya elah woles aja kale. " kata Ochi sambil cengar-cengir.
" Lagian lo juga udah kaya layangan singit tiap ketemu orang pasti lo kagetin. " kataku sambil memasukkan tas shania ke dalam keranjang sepedaku.
" Haha.... Lo kaya baru kenal gue aja Jun. Kan gue kalo lagi singit suka begitu. " kata Ochi sambil ketawa cekikikan.
" Eh gue pengen nanya nih ama lo Chi. " kataku sambil mendekati Ochi.
" Woles, mao nanya apaan? Pasti gak jauh-jauh nanyain Shania. "
" Iya lah, selaen lo siapa lagi yang bisa gue nanyain keadaan Shania. " kataku sambil berbisik kepada Ochi.
" Kok hari ini ada yang aneh ya ama Shania, gak kaya biasanya Shania begini. Lo tadi gimana keadaan Shania di kelas? "
" Iya dia juga diem aja tadi di kelas. Tapi gue nanya ama dia, dia lagi gak enak badan. Trus gue pegang jidatnya gak anget kok biasa aja. " jawab Ochi.
" Lo gak nanya ama dia lagi ada masalah apa? " kataku dengan heran.
" Dia pasti cerita duluan Jun kalo ada masalah, apalagi kejadian konyol. "
" Gue tadi pas nunggu dia di kantin juga gak cerita sama sekali. " kataku sambil melihat Shania di pos satpam yg dari tadi sudah menungguku.
" Ya lo coba lagi aja nanya-nanya ke dia. Lo ajak ke taman deket kompleks. Nah di situ kan suasananya pas buat tenangin pikiran trus lo bisa ngobrol deh berdua. " kata Ochi sambil melambaikan tangan ke Shania.
" Wah bagus juga tuh ide lo. Gue ajak aja dia ke taman. Ya udah gue pulang dulu. Kasihan tau Shania dari tadi nungguin. Makasih sarannya Ochi singit. " kataku sambil mencubit pipi Ochi dan mengayuhkan sepedaku menuju pos satpam.
" Ah sialan lo Juned! Awas aja ya kalo ketemu gue timpuk lo! " teriak ochi.
Aku menghampiri Shania yang dari tadi menungguku.
" Maap ya aku udah ngangurin kamu di sini. Abis tadi si Ochi singit isengin aku. "
" Iya gak apa-apa kok. " jawab Shania sedikit tersenyum dan langsung duduk di belakang sepedaku.
Aku langsung mengayuhkan sepeda perlahan-lahan. Shania masih diam tidak mau cerita kepadaku.
" Nanti pulang ke taman yg di kompleks dulu gimana Shan?" kataku sambil menoleh ke Shania.
" Aku cape banget hari ini sayang. Aku pengen istrihat dulu. Nanti lain waktu kan bisa. " kata Shania sambil memeluk erat pinggangku.
" Ya udah lain kali aja kita ke tamannya. " kataku yg mulai mengayuh cepat pedal sepeda.
Aku merasa pelukan Shania berbeda sekali. Baru kali ini dia memeluk erat pinggangku sampai meneteskan air mata. Aku tak sadar bajuku sudah basah oleh air mata Shania. Aku langsung menoleh ke belakang.
" Shan kok kamu nangis? Kamu takut ya aku bawa sepedanya kenceng. "
Shania langsung sadar kalo bajuku sudah banjir oleh air matanya. Shania langsung menghapus air matanya.
" Gak kok. Gak kenapa-napa. " jawab Shania yg langsung gugup.
" Bener kamu gak kenapa-napa. Ya udah nanti sampai di rumah kamu langsung makan trus jangan lupa minum obat dan istirahat ya. "
Ku ingin menanyakan ini semua pada waktu yg tepat. Ku rasa ini bukan waktu yang tepat buat menanyakan ini semua.
**
Bulan dan bintang sudah menyelimuti malam. Aku berbaring di tempat tidur. Ku liat foto aku dengan Shania tampak terletak sebelah kanan tempat tidurku. Ku coba mengambilnya dan ku pandangi. Tak sadar aku seperti kembali ke masa lalu dimana aku pertama kali mengenal Shania. Tak terasa sudah lebih dari satu tahun aku menjalani hubungan ini. Banyak sudah masa-masa senang maupun duka aku lewati bersama Shania. Tepat tanggal 27 juni tahun lalu. Aku memberikan kado berupa gelang bertuliskan 'ShanJu' yaitu 'Shania Junianatha' atau bisa di singkat 'Shania Junaedi'. Sampai gak sadar kalo aku sampai cengar-cengir sendirian di kamar. Dan akupun tertidur pulas.
*****
Pagi telah tiba. Ku dengar suara handphoneku berbunyi. Ku liat ada message dari Shania.
* Triiit... Triiit *
" Maaf ya sayang tadi malam aku udah tidur duluan, trus aku habis minum obat trus langsung tidur deh. Maaf ya sayang ^_^ . Nanti kayanya aku hari ini gak berangkat bareng ama kamu dulu deh. Soalnya aku di anterin sama ayahku. Kamu gak marah kan. Ya udah aku mau mandi dulu nanti kesiangan lagi. Dadah Junaedi... ^^ "
Aku lega ternyata tidak terjadi apa-apa kepada Shania. Akupun segera mandi dan berangkat menuju sekolah. Pagi ini aku tidak berangkat bareng dengan Shania. Setelah semua sudah selesai dan rapi akupun segera mengambil sepeda yang berada di garasi samping rumah. Udara pagi ini terasa sejuk. Ku hirup dan ku nikmati sambil mendengarkan lagu. " Bersepeda aku menanjaki bukit itu, Sekuat tenaga ku kayuh pedalnya. Anginpun mulai menghembus kemejaku, Ku rasa masih kurang cepat~~ " gumamku mendengar lagu di handphoneku.
Tak terasa dari kejauhan sudah terlihat gerbang sekolah. Sebagian murid-murid juga ada yang di antarkan oleh orang tuanya. Aku menuju parkiran biasa memakirkan sepeda. Setelah ku menaruh sepeda, ku liat di pos satpam seperti anak perempuan yg turun dari sebuah mobil klasik. Bagiku mobil klasik itu tidak asing. Ternyata benar yg ku liat anak perempuan yg turun dari mobil klasik itu adalah Shania. Aku pun segera berlari dan melambaikan tangan ke Shania. Shania tidak merespon lalu mempercepat langkah menuju kelas. Aku pun tidak dapat mengejarnya. Lalu aku masuk ke kelas Shania. Ku liat dia lagi sibuk mengerjakan tugas sekolah. Mungkin dia belum mengerjakan tugas karena semalam tadi dia tidur. Akupun mengalah dan tidak mau mengganggu Shania. Aku segera menuju ke kelasku. Kebetulan kelas ku tidak jauh dari kelas Shania. Aku berada di kelas XI IPS-3 sedangkan Shania di kelas XI IPS-1. Waktu di sekolah berjalan begitu cepat hingga akhirnya bel pulang berbunyi. Seperti biasa aku menunggu Shania di kantin. Ku liat Shania sama seperti hari kemarin. Tidak ada senyum yg menghiasi wajah manisnya. Dan aku dan Shania langsung menuju parkiran. Di perjalanan menuju parkiran aku mulai bertanya kepada Shania.
" Nanti pulang sekolah kita ke taman deket kompleks yuk, gimana? "
" Ya udah, ada yg pengen aku omongin sesuatu ama kamu. " jawab shania
" Mau ngomong apa? Aku juga pengen nanya sesuatu juga ama kamu. "
" Ya udah nanti aku juga mau jelasin semua ke kamu tentang kejadian kemarin. " jawab Shania.
Aku segera cepat mengambil sepedaku lalu mempercepat langkah sepeda menuju ke taman. Sesampai di taman, Shania entah kenapa langsung memelukku dengan erat. Kebetulan suasana di taman mendukung dan tidak terlalu ramai. Aku memulai pembicaraan kepada Shania.
" Kamu kenapa kemarin seperti gak biasanya? " kataku yg masih di peluk Shania.
" Kamu sayang kan sama aku jun? " jawab Shania yg mulai meneteskan air matanya.
" Lah kenapa kamu ngomong begitu Shan. Ya jelas aku sayang banget ama kamu. " kataku sambil melepaskan pelukkan dan menatap kedua bola mata Shania.
" Kamu rela gak kalo kamu harus kehilangan aku? " tanyanya lagi.
" Ya jelas gak rela aku harus kehilangan kamu. Kamu kenapa nanya begitu. Ada apa dengan kamu Shan? " jawabku sambil mengusap air mata Shania.
" Seandainya aku harus jauh dari kamu dan pergi dalam waktu yg cukup lama? "
" Maksudnya ? " jawabku dengan heran.
" Iya, aku harus pergi ke Jepang karena ayah dapat dinas di sana. Dan aku beserta keluarga juga harus pindah ke sana. " kata Shania yg meneteskan air matanya lagi.
Entah kenapa aku lemas mendengar perkataan Shania. Mau tidak mau aku harus mengalah dalam posisi seperti ini.
" Aku bakalan siap kok kamu jauh dari aku. Kan kita punya gelang perasa. Dimana kamu rindu aku. Aku juga ngerasain. Dan begitu juga sebaliknya. Aku juga akan setia menunggu kamu. " jawabku sambil memegang tangan Shania.
" Kamu bakalan sabar dan setia kan jun nungguin aku pulang ke sini? "
" Iya-iya aku bakalan sabar dan setia kok nungguin kamu pulang. " jawabku sambil mengecup kening Shania menghentikan pembicaraan.
Tak terasa waktu senja telah tiba. Aku dan Shania pun segera pulang. Aku berjalan menenteng sepeda bersama Shania. Di perjalan kami berdua sempat berbincang tuk terakhir kalinya.
" Mulai kapan kamu akan pergi ke Jepang ? "
" Mulai besok pagi aku dan keluargaku akan pergi. Tadi pagi sengaja aku gak berangkat bareng ama kamu dan Ayah anterin aku untuk mengurus juga kepindahan sekolah. " jawab Shania.
" Kenapa kamu tutupi dari aku dan baru bilang sekarang Shan? "
" Karena aku pengen tau seberapa siap dan sanggup kamu tuk jauh dari aku. Sebenernya kabar ini udah seminggu yg lalu. Dan aku gak mau aja kamu gak nerima kepergian aku. " jawab Shania.
" Aku juga sudah beritahu Ochi sebelumnya. Dan aku sengaja supaya Ochi tidak cerita dulu sama kamu. " kata Shania yg menatapku.
Aku langsung kaget Shania bilang begitu kepadaku. Dan aku gak percaya kenapa Shania bisa setega itu. Sampai tiba di rumah Shania, untuk terakhir kalinya. Tak kuat aku menahan ini semua. Pegangan tangan ini menjadi yg terakhir tuk perjumpaan aku dan Shania. Senja sudah semakin gelap. Akupun pulang ke rumah.
Seperti biasa berangkat ke sekolah. Aku harus bisa bersemangat tanpa Shania. Hari-hariku harus ceria walau tak ada Shania di sampingku. Aku harus bisa juga jalani hubungan jarak jauh ini. Aku gak mau bikin Shania kecewa dengan sikapku tak bisa tanpa dia. Seperti biasa hari-hariku menjalani aktifitas di sekolah. Ku hanya termenung terus memikirkan Shania. Hingga bel pulang sekolah pun berbunyi. Aku berjalan menyelusuri jalanan hingga ku terhenti di sebuah cafe tuk memesan segelas jus. Tak tahu kenapa sekumpulan orang mengerubungi sebuah siaran berita di tipi. Aku pun tak memperdulikan. " Ah palingan juga berita pemerkosan wanita di angkot ato seorang juragan minyak punya 48 bini. " gerutuku sambil menghabiskan minuman. Ku tak perduli apa yang mereka tonton. Ku hanya bisa kembali termenung dengan Shania. Sampai seketika akupun ikut penasaran apa yang mereka tonton. Dan tak sengaja ku menguping salah seorang berkata, " Ada kecelakaan pesawat Aer Asia Boeng 737 tuh. Mana baru take off sudah kecelakaan aja. " kata salah seorang. Akupun jadi teringat dengan Shania lagi. Apakah Shania termasuk korban kecelakaan pesawat tersebut? Lantas aku langsung menghampiri kerumunan orang-orang yg menonton berita tersebut. Dan ternyata benar pesawat yang kecelakaan itu akan berangkat menuju Jepang. Akupun lemas melihat dan menyaksikan berita tersebut. Tanpa pikir panjang akupun langsung pergi menuju bandara untuk mencari informasi pesawat kecelakaan itu. Ku hentikan taksi menuju bandara. Di dalam taksi aku menjadi gemetaran dan pikiran ku kacau berantakan.
Sampai di bandara banyak sekumpulan orang yg melihat daftar para penumpang pesawat kecelakaan itu. Ku cari nama 'Shania Junianatha'. Dan benar naas menimpa semua keluarga Shania. Aku lemas melihat nama Shania ikut dalam kecelakaan pesawat itu. Aku tak tau harus bagaimana lagi. Aku pun menangis menjerit teriak sejadi-jadinya tak kuasa menahan kepedihan ini. " Iniii tiiidaaak mungkiiin.......... !! Shaaaaaniiiiiaaaaa.......... !! " teriakku sekeras-kerasnya. Akupun panik dan bertanya kepada seorang petugas bandara menanyakan di mana korban kecelakaan pesawat berada. Tanpa pikir panjang lagi aku langsung berlari dan memberhentikan taksi. Bena-benar kejadian ini tidak bisa ku terima. Aku berharap ada mukjizat buat Shania selamat.
Sampai di rumah sakit dimana para korban kecelakaan pesawat di evakuasi. Akupun langsung berlari menuju ruang evakuasi para mayat. Aku mencari daftar para korban lagi. Dan aku baru ingat kalo Shania memakai gelang itu. Lantas aku mencari korban memakai gelang sama persis denganku. Ketika ku melihat sesosok mayat berselimut kain putih menutupi memakai gelang sama persis denganku. Akupun langsung mendekati dan membuka secara perlahan...
*****
" Tiiidaaakkk..... !! " Teriak ku ketika ku tau yang tadi itu ternyata mimpi. Keringat dingin bercucuran di badanku. Mimpi buruk yang benar-benar kenyataan. Setengah sadar dari mimpi aku langsung menghubungi Shania. Tak ada jawaban dari telpon Shania. Panik dan sedih masih terbayang dalam pikiranku tentang mimpi Shania. " Apa ini pertanda buruk buat Shania? " pikirku dalam hati. Ku liat di luar rumah gerimis menyelimuti. Tanpa pikir panjang akupun langsung ke rumah Shania. Ku kayuh cepat pedal sepedaku tengah gerimis.
Sampai di rumah Shania, ku ketok pintu rumah Shania...
" Shania... !! Shania... !! " teriakku panik.
* Klerk *
" Kenapa Jun ujan gerimis begini ke rumah? " sapa Shania yg membukakan pintu.
Langsung ku peluk Shania dengan erat.
" Kamu gk kenapa-napa kan Shan? Kamu gk pergi ke Jepang kan? Kamu gk kan ninggalin aku Shan? " kataku panik memegang bahu Shania.
" Aduh plis kamu kenapa dateng-dateng udah kaya orang ke sambet? Kamu abis nonton apaan semalem ampe segitunya? " jawab Shania heran melihat tingkahku.
" Syukur deh kalo kamu gk kenapa-napa dan masih selamat. " * fiyuh * kataku menghela napas.
" Selamat apanya maksud kamu Jun? " tanya Shania bingung.
" Shan kita ke taman yuk ada yang pengen aku tunjukkin. " ajakku sambil menarik tangan Shania.
" Mao ngapain sih gerimis begini ke taman? "
" Udah ikut aja ayo sekalian pengen jelasin yg tadi? "
Shania langsung memakai sweater dan langsung duduk di belakang sepedaku. Akupun langsung melaju cepat menuju taman.
Sampai di taman...
Shania masih bingung apa yang aku tunjukkin ke dia. Dan tiba-tiba perlahan hujan gerimis pun berhenti. Mendung pun perlahan menghilang.
" Apa yg kamu pengen jelasin ke aku? " tanya Shania.
" Kamu kemaren sewaktu pulang sekolah kenapa murung? " jawabku menatap Shania.
" Oh... Waktu pulang sekolah kemaren aku tuh sedih mendengar kabar Nenekku meninggal. Dan maap aku gak bisa jelasin ke kamu karena aku langsung shock. Nenekku adalah orang yg paling ku sayangi juga. " kata Shania menjelaskan.
" Sekali lagi maap aku jadi murung ke kamu. " kata Shania lagi.
" Syukur deh kalo begitu udah jelas semuanya. " kataku.
" Nah sekarang apa yang pengen kamu tunjukkin ke aku? " tanya Shania heran.
" Coba deh sekarang kamu liat ke langit. "
" Ada apa sih mangnya di langit? "
" Liat dulu dengan teliti. "
" Ih orang gk ada apa-apa. "
Tiba-Tiba pelangi pun muncul bermunculan aneka warna.
" Iya tuh ada pelangi. Aduh indah banget ya. "
kata Shania kagum.
" Kamu liat gak di situ ada dua pelangi? "
" Mana sih ada dua pelangi? Orang cuman satu doang. " jawab Shania bingung.
" Iya bener di situ cuman ada satu. Dan satu lagi ada di samping aku. " kataku langsung menatap tajam mata Shania.
" Pelangi yang di langit itu yang selalu mewarnai alam sekitarnya dan perlahan-lahan pudar. "
" Terus pelangi selanjutnya mana? " tanya Shania lagi.
" Pelangi yang gak akan pernah pudar dan selalu mewarnai hari-hari aku adalah kamu. "
Kami pun berdua kembali bercengkrama ditaman. Aku menjelaskan kembali mimpiku semalam kepada Shania. Shania pun tertawa mendengarkan cerita dari mimpiku. Mimpi yang sungguh tak bisa ku terima harus kehilangan Shania. Kehilangan pelangi yang paling berharga. Canda dan tawa Shania.

***
Fanfict kiriman dari:


Read more: http://alimusiri.blogspot.com/2013/03/pelangi-oh-pelangi.html#ixzz2ZuRAlNH0

Tidak ada komentar:

Posting Komentar