Selasa, 23 Juli 2013

Kembang Api Untuk Lidya


Malam ketika ku tak bisa tidur ku selalu SMS Lidya. Kupejamkan mata ditempat tidur ku menunggu SMS balasan. Ketika hpku bergetar, SMS masuk yang kutunggu tiba. Kuambil kunci mobil di meja belajarku dan berlari menuju mobil. Saat melewati depan kamar orang tuaku, aku berjalan mengendap – endap seperti maling. Ya, malam ini aku memang ingin mencuri, mencuri hati Lidya. Pelan – pelan kubuka pagar, kudorong mobilku agar tidak terdengar bunyi mesin mobil, lalu kututup lagi pagar rumahku dan ku pacu mobilku menuju rumah Lidya.
Di depan jendela kamar Lidya kulempar batu, aku yang dari bawah memberi isyarat.
“Kamu gila ya? Mau ngapain?” Tanya Lidya.
“Iya, jalan – jalan yuk.” Ajakku sambil berbisik dari bawah.
“Kemana?”
“Kita Pajama Drive.”
“Maksudnya?”
“Kita jalan – jalan pake piyama.”
“Sakit nih kamu kayaknya.”
“Iya, sakit Malarindu.” Ledekku.
Lidya hanya tersenyum. Ia mengambil jaket dan keluar dari jendela kamarnya. Ia berjalan di genteng yang rata, dan mendekati sambungan pipa didekat dinding rumahnya. Lidya kini ada dihadapanku.
“Mari Tuan Putri.” Aku memberikan tangan layaknya seorang pangeran.
“Laga lu selangit, kebanyakan nonton ftv.” Ledek Lidya.
“Biarin, kalo cuma jadi cerpen pun aku juga seneng sama cerita kita.”
Lidya hanya tersenyum mendengar ledekanku. Kami masuk ke mobil dan memulai perjalanan.
 “Aku laper.” Rengek Lidya.
“Manja.”
“Pokoknya sebelum pulangin aku, aku harus makan dulu.”
“Kok gitu?”
“Kamu kan udah nyulik aku.”
“Iya, aku mau ajak kamu ketempat makan romantis nih.”
“Dimana?”
*
“Pesanannya silakan?”
“CheeseBurger 2, kentang yang medium, sama Milo 2, esnya dikit aja.” Ucapku.
“48ribu, bayar dan ambil pesanan di depan ya, terima kasih sudah menuju drive trhu mekdi.”
“Makan malem romantis? Disini?” Tanya Lidya heran.
“Gausah ngeluh, watch and learn.”
Aku mengambil dan membayar pesanan makanan. Setelah itu aku menuju parkiran mobil dan keluar. Lidya ikut keluar mobil dan heran.
“Mau ngapain sih?”
“Sini, katanya mau romantis.” Ajakku.
“Manaaa??”
Aku duduk di belakang mobilku (ceritanya mobilnya sedan, BMW325i) aku duduk sambil memakan cheeseburger punyaku. Lidya duduk di sebelahku.
“Oh... nontonin malem yah ceritanya?” Tanya Lidya.
“Gak sekalian nontonin kebakaran aja.” Ledekku.
“Eh tapi keren yah, liatin bintang malem – malem gini. Lebih keren lagi kalo ada yang bisa warnain langit ini buat aku.”
“Kalo aku bisa warnain langit malam ini, kamu mau kasih aku apa?”
“Hati aku.” Jawab Lidya sambil senyum memanja.
Aku bengong. Milo yang kuminum tumpah dari mulutku.
“Eh, kesambet, pulang ah. Udah mau pagi, tuh banci sama bencong udah pada mau pulang.” Minta Lidya.
“Tau aja bosnya bencong.” Ledekku.
Aku dan Lidya masuk ke mobil dan menuju jalan pulang kerumah Lidya.
*
Malam yang lain kini tiba. Aku kembali mengetuk jendela kamar Lidya dengan batu.
“Mau apa lagi kamu?” Tanya Lidya.
“Mau ngewarnain langit, ayo.” Ajakku.
Lidya segera turun dari kamarnya dan menuju mobilku.
Diperjalanan, wajah Lidya nampak gelisah.
“Kamu lagi sakit ya?” Tanyaku.
“Enggak kok.”
Tiba – tiba telepon genggam milik Lidya berdering. Tertuliskan nama “Mamah” menelfon Hp Lidya.
Wajah Lidya panik.
“LIDYAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Suara dari telfon terdengar keras.
“I...Iya, Mah?” Jawab Lidya gugup.
“DIMANA KAMU?”
“Di...taksi, Mah...”
“NGAPAIN DI TAKSI JAM SEGINI? JADI JOKI?”
“Aku laper, tadi abis beli mekdi...”
“POKOKNYA PULANG SEKARANG!!! JANGAN SAMPE KAMU BESOK JADI BATU!!”
Telepon mati. Lidya pucat, panik.
“Aku mau pulang, cariin aku taksi, sekarang.”
“Maafin aku ya, Lid.”
“Minta maafnya besok aja kalo aku gak jadi batu.”
Aku hanya diam dan mencarikan taksi. Saat berhenti di lampu merah, jalanan nampak sepi.
“Mau cari taksi dimana?” Tanyaku.
“Mana aja, yang penting pulang.” Jawab Lidya jutek.
“Kemenoong...kemenoong...keee...meenooong..” Ucap seorang bencong yang ngamen.
“Tapi gak disini ya, aku ngeri.” Lanjut Lidya.
“Iyyh... Libomnya bagaskara deh ah...” Ucap si bencong.
“Eym...dua sejoli, menjalin cintong, pamali ih, mending eyke jadi orang ketiga yuk.” Lanjut bencong.
“Jadi setan dong lo, nih.” Aku membuka jendela dan memberinya uang dua ribuan.
“Eh sori mayori, pasaran eyke disini cenggo, nih eyke balikin gope, ada bekas kerokan semalem.” Lanjut si bencong.
Mobil langsung kupacu ketika lampu berwarna hijau. Wajah Lidya masih cemberut. Tanpa sadar, aku telah sampai dirumah Lidya.
“Kamu bisa bahasa Indonesia gak sih?” Tanya Lidya.
“Emang kenapa?”
“Aku minta cari taksi, bukan minta anterin pulang. Kalo mamahku tau besok aku jadi batu.”
“Eh iya... Maaf...Aku...”
“Jangan harap besok kamu bisa jalan – jalan sama batu.”
Lidya keluar mobil dan masuk kerumah. Aku segera meninggalkan rumah Lidya.
*
“Lidya...” begitu isi SMS yang ku kirim ke Lidya.
“Apa?” Balasnya.
“Syukur...masih bales SMS, untung gak jadi batu.” Balasku.
“Ada apaan sih? Aku gak bisa keluar lagi malam – malam, pajama drive kita udah abis.”
“Tapi izinin aku untuk ngewarnain malem ini, malem ini aja.”
“Maksud kamu?”
“Liat jendela deh.”
Lidya membuka jendela dan melihat aku disamping mobil melambaikan tangan kearahnya. Aku menunjuk kearah kananku, dan Lidya menoleh.
DUAAARRR!!!
Bunyi ledakan mercon terdengar. Suara kembang api ikut menyaut. Langit malam ini diwarnai oleh kembang api untuk Lidya. Mulai dari kembang api air mancur, hingga berbentuk bunga semuanya mewarnai malam ini.
“Jadi... ini maksud kamu mewarnai malam?” Tanya Lidya di SMS.

 ***
Fanfict kiriman dari:


Read more: http://alimusiri.blogspot.com/2013/03/kembang-api-untuk-lidya.html#ixzz2ZuOZZysn

Tidak ada komentar:

Posting Komentar